Batik remis len rua merupakan batik tulis yang dikombinasikan dengan teknik cap sehingga proses pembuatannya membutuhkan waktu dan ketelatenan tinggi mulai dari membuat desain, mencanting, menembok, mewarnai, pemberian waterglass dan terakhir dibilas.
Awalnya batik remis len rua hanya memiliki satu jenis motif retak-retak atau batik remukan, namun seiring berjalannya waktu dan berkembangnya kreativitas para peserta didik dan pendamping, batik remis len rua mulai menghadirkan motif-motif khas Sumbawa seperti kemang setange, istana dalam loka, pemain serunai dan lainnya. Tidak hanya itu kami juga mengintegrasikan elemen khas SLB ke dalam desain batik, seperti bahasa isyarat, huruf braille, gambar kursi roda serta simbol-simbol inklusi lainnya. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus tidak hanya mampu berkarya tetapi juga mampu membawa identitas dan keunikan mereka ke dalam produk budaya yang bernilai tinggi.
3 Motif batik remis len rua juga telah resmi tercatat dan memiliki hak cipta yang diterbitkan oleh kementerian hukum republik indonesia terhitung sejak Agustus 2025 diantaranya motif dalam loka dan serunai, motif barapan kebo dan motif lamung pene.
Batik remis lenrua ini telah kami perjualbelikan dan kami perkenalkan ke berbagai elemen masyarakat serta pejabat daerah mulai dari Bapak Menteri Pendidikan Republik Indonesia, Bapak Kepala Dinas Dikbud Provinsi Nusa Tenggara Barat, Anggota DPR RI Bapak Johan Rosihan, S.T, Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa Periode 2020 hingga 2024 Bapak Abdul Rofiq, S.H., serta beberapa tamu lainnya yang pernah berkunjung ke SLBN 1 Sumbawa. Selain itu batik remis len rua juga kami promosikan disetiap pameran yang kami ikuti baik di dalam maupun di luar daerah, kami juga bekerjasama dengan dekranasda (dewan kerajinan nasional daerah).
